Tampilkan postingan dengan label cang panah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cang panah. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

Ibuku Kejam



”Ibu, aku masih ingin hidup ibu... aku masih ingin menatap dunia... jangan kau rampas hakku ibu...”

Si bayi menatap ibunya penuh harap. Ia meminta belas kasihan dari ibunya. Ibu yang telah menghadirkannya ke dunia ini. Namun ibunya takkan memperdulikan si bayi. Ia mengabaikan begitu saja permintaan anaknya itu. Walaupun sang buah hati, namun tak ada lagi belas kasihan padanya. Ia memandang darah dagingnya seperti memandang musuh. Ia telah bertekat untuk menghabisi nyawa malaikat kecilnya.

Kamis, 02 Februari 2012

Nyamuk

Sumber google

Suatu hari, sebuah tim kesehatan dari kecamatan datang ke desa tempat Nurdin tinggal. Mereka akan mengadakan penyuluhan mengenai bahayanya penyakit Demam Berdarah (DBD) dan Malaria. Para tim menjelaskan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh nyamuk-nyamuk yang ada di lingkungan mereka tinggal.

“Nyamuk adalah serangga yang mempunyai dua sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang. Panjangnya biasa kurang dari 15 mm,” jelas anggota tim kesehatan.

Senin, 14 November 2011

Jam Karet

jam karet
Ilustrasi
Pagi Minggu sekitar pukul setengah sembilan, Nurdin bergegas pergi menuju kampus. “Hari ini ada rapat mahasiswa, saya harus buru-buru,”  kata Nurdin kepada Bang Basyah. Ia juga memberi tahu bahwa ia mendapatkan sms dari panitia bahwa acaranya jam 8.30 wib. Karena takut telat, Nurdin hanya meneguk segelas air putih, lalu berangkat dengan menunggang sepeda motornya.

Ketika Nurdin tiba di kampus, ia tidak melihat seorang pun rekannya yang akan mengikuti rapat di halaman gedung. Nurdin memarkirkan sepeda motornya di bawah pohon Kupula. Kemudian langsung menuju aula – tempat dimana rapat digelar. “Pasti saya telat, sementara kawan-kawan saya telah duluan masuk kedalam ruangan. Pasti mereka sudah mulai rapatnya,” pikir Nurdin dalam hati.

Rabu, 08 Juni 2011

Hilang Sandal

Foto search google

Suatu malam, Nurdin dan Bang Basyah pergi ke sebuah masjid kampung tetangganya untuk mendengarkan ceramah agama. Mereka datang sebelum waktu isya dan berniat untuk salat isya di masjid tersebut. Setelah selesai salat, Sang Teungku (ustaz) penceramah langsung dipersilahkan untuk menyampaikan ceramahnya kepada jamaah yang berhadir.

Ceramah kali ini bercerita tentang makna musibah bagi diri sendiri dan bagi orang lain dalam kehidupan manusia. Teungku menjelaskan bahwa sebuah musibah yang besar maupun kecil, datang dari Allah. Kita semua harus bersabar dan mengembalikannya hanya kepada Allah semata, yaitu dengan mengucapkan Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un. “Sebagai contoh, seseorang yang kehilangan sandal di masjid atau di tempat-tempat lainnya, itu juga termasuk musibah,” tambah sang Teungku.

Acara ceramah selesai, semua jamaah bangkit dari tempat duduknnya dan pulang kerumah masing-masing. Begitu juga dengan Nurdin dan Bang Basyah, mereka juga bangkit dan keluar dari masjid. Ketika mereka hendak meninggalkan masjid, mereka melihat sang Teungku nampak sedang mencari sesuatu di halaman masjid. Pandangan matanya tertuju ke semua sudut masjid dengan wajah yang nampak sedikit gelisah.

Nurdin jadi bingung dengan tingkah sang Teungku, ia pun bertanya, “Teungku sedang mencari apa, mungkin bisa kami bantu?”

“Sedang mencari sandal saya yang hilang, padahal itu sandal baru yang saya beli malam kemarin,” jawab Teungku.

Mendengar penjelasan sang Teungku, dengan spontan Nurdin dan Bang Basyah mengucapkan, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.” Teungku pun tersadar dengan wajah tersipu malu, ia langsung pamit pulang kepada Nurdin dan Bang Basyah. Kemidian Teungku mampir di warung sebelah jalan untuk membeli sandal jepit.

Bang Basyah tersenyum dan berkata kepada Nurdin, “Janganlah kita mengira bahwa musibah itu hanya datang kapada orang-orang yang ingkar saja. Kepada orang paling shaleh sekalipun juga akan mengalami musibah dalam kehidupan yang dijalaninya di dunia ini.”

“Kejadian ini bisa jadi pelajaran buat kita Din, siapa tahu kita nanti jadi pemimpin. Maka kita harus sadar diri, jangan kita cuma melarang rakyat agar tidak mencuri, merampok, bermusuhan, tetapi kita sendiri melakukan korupsi, menipu rakyat, dendam terhadap lawan politik, dan lain sebagainya. Apabila hal ini telah terjadi, maka cepat-cepatlah sadar. Dan yang terpenting, janganlah pura-pura khilaf untuk menipu dan memakan uang rakyat.” Tambah Bang Basyah.[]

Cang Panah Harian Aceh (05/06/11)

Kamis, 05 Mei 2011

Penggembala

Foto Google


Di sebuah pos jaga, Nurdin dan Bang Basyah duduk bersama sambil memperhatikan orang-orang yang lewat di jalan raya. Mereka menceritakan keadaan-keadaan baru yang terjadi sekarang ini. Di sela-sela pembicaraan, Nurdin bertanya kepada bang Basyah tentang orang yang tidak jujur. Sambil menikmati secangkir kopi, bang Basyah menjawab pertanyaan Nurdin. “Begini Din, ini ada sebuah kisah tentang orang yang tidak jujur dan asyik mempemainkan orang.” “Begini ceritanya,” bang Basyah mulai bercerita.

Di padang rumput yang luas, seorang anak penggembala asyik bermain-main dengan domba yang  sedang merumput. Setiap hari ia pergi ke tempat ini untuk menggembalakan sekawan dombanya. Suatu hari, anak penggembala itu merasa bosan, sehingga ia memutuskan untuk mempermainkan penduduk kampung. Kemudian ia berteriak, "Tolong, ada serigala!"

Penduduk kampung mendengar teriakan itu. Mereka bergegas keluar untuk menolong anak penggembala itu. Ketika mereka sampai di sana, mereka bertanya, "Mana serigalanya?"

Minggu, 20 Maret 2011

Benteng

Alkisah, di sebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang alim. Ia lebih dikenal dengan nama Barshisha. Sudah dua ratus tahun ia hidup, namun ia tidak pernah berbuat maksiat walaupun sekejap. Dengan ibadah dan kealimannya, sembilan ribu muridnya bisa berjalan di atas bumi melalui udara. Sampai-sampai para malaikat kagum terhadap hamba yang satu ini.

Suatu hari iblis datang ke biara Bashisha dengan menyamar sebagai seorang yang alim, dengan mengenakan kain zuhudnya berupa kain tenun.

"Siapa engkau ini, dan apa maumu?" Tanya Barshisha.

"Aku adalah hamba Allah yang datang untuk menolongmu, dalam rangka beribadah kepada Allah," jawab Iblis.

Dengan hati yang tegar Barshisha berkata, "Barangsiapa yang ingin beribadah kepada Allah maka cukuplah Allah sendiri yang menolongnya dan bukan engkau."

Kamis, 17 Maret 2011

Korek Api

Fotobucket.com
Pagi Minggu, Apa Banta disuruh ibunya pergi ke sawah. Ia ditugaskan untuk melihat burung-burung agar tidak mendarat dan makan padinya. Apa Banta menuruti perintah ibunya, ia pergi ke rangkangnya dengan membawa seplastik pisang goreng. Sambil menjaga padi ia menikmati pisang gorengnya.

Dari jauh dilihatnya sosok seseorang yang datang ke rangkangnya. Ia tidak lain adalah kakeknya yang akan menemani Apa Banta di sawah. Ia terus mendekat dan kemudian singgah di rangkangnya. Apa Banta memberi pisang goreng untuk kakeknya. “Sambil paroh tulo, kakek akan menceritakan kepadamu tentang seorang pemimpin yang adil dalam mempergunakan harta rakyatnya. Apakah engkau akan mendengarnya?” Tanya kakek kepada Apa Banta.

“O… boleh, boleh, boleh. Saya sangat senang mendengarnya Kek,” jawab Banta,  cucunya. Kakek pun mulai bercerita dan Apa Banta menyimak dengan baik cerita kakeknya.

Garis Lurus



pensil, garis lurus
Pada suatu pagi di sebuah kedai kopi, Udin duduk sendirian sambil meneguk segelas kopi dan menikmati sepotong kue. Ia mendengar orang-orang di sampingnya asyik membicarakan masalah pilkada yang akan berlangsung bulan depan. Mereka mempertanyakan, siapakah yang pantas jadi pemimpin? Seorang di antara mereka mengatakan bahwa pemimpin itu harus jujur dan adil. Udin yang baru tahun ini memiliki hak pilih, ia masih bingung dalam menentukan pilihannya. Ia masih bertanya-tanya, seperti apakah pemimpin yang jujur dan adil itu?

Pada suatu malam di dayah pengajian, Udin bertanya kepada Teungku Lot. "Teungku, pemimpin yang jujur dan adil itu seperti apa? Saya masih bingung menentukannya, karena sekarang semuanya mengaku adil, tapi kenyataannya 'han sapeu pih', mereka semua lebih memilih jabatan belaka, sementara rakyatnya ditelantarkan."

Usaha

Di sebuah daerah di sudut kota, ada seorang pemuda pincang yang tinggal di kolong jembatan. Setiap pagi, pemuda ini pergi mencari isi perut. Ia mengemis pada orang-orang di sekitarnya. Walaupun ada yang memberi dan ada juga yang menolaknya, namun ia tetap berusaha demi nafkah hidupnya.

Suatu hari, seperti biasa pemuda ini menjalankan profesinya sebagai pengemis. Tapi hingga siang hari, tak ada sekeping koin pun yang ia dapatkan. Pemuda ini tidak putus asa, ia terus berusaha. Lalu, si pemuda pergi ke sebuah rumah orang kaya yang dermawan. Kemudian ia meminta-minta di rumah itu.

Sang dermawan selaku pemilik rumah ini mengatakan padanya, "Saya akan memberikan sesuatu untukmu wahai pemuda. Tapi sebelumnya engkau harus memindahkan dulu batu-batu  yang di belakang rumah, dan bawa ke depan!"

Salah Cara

Alkisah, sekitar seribu dua ratus tahun yang lalu, ada dua tetangga hidup rukun dan damai di dalam perkampungan yang besar. Satu Islam dan satunya lagi Kristen. Mereka sering bersua, bantu membantu, dan saling bertukar pendapat. Dalam setiap kesempatan, si Muslim senantiasa mengunggulkan agamanya. Ia mengajak tetangganya untuk memeluk islam.  Usahanya berhasil.

Suatu hari, saat malam semakin larut dan fajar merambati ufuk, si Muallaf mendengar suara gedoran pintu. Tergeragap, dan dia bertanya, "Siapa disana?"

Dari balik pintu terdengar suara, "Saya fulan bin fulan, tetanggamu."

"Apa yang kamu inginkan saat malam larut ini?"

"Cepat kenakan pakaianmu dan ambil wudhu', kita harus ke masjid bersama-sama."

Si Muallaf mengambil wudhu' dan mereka pergi ke masjid bersama-sama. Di masjid, ia mengikuti semua yang disarankan oleh rekannya yang muslim ini. Ia shalat sunat menjelang subuh, berniat puasa sunat sebelum azan berkumandang dan membaca wirid setelah shalat subuh.

Jumat, 21 Januari 2011

Lapar


PADA  pagi yang cerah, seekor rubah (binatang sejenis anjing yang biasanya main di air) keluar dari tempat kediamannya untuk mencari makanan. Ia berjalan mengelilingi sepanjang jalan di desa. Lalu ia melihat sebuah kebun anggur yang lebat buahnya. Ia berniat masuk ke dalam kebun itu. Tapi bagaimana caranya, sebab kebun itu dikelilingi dengan pagar tembok. Si Rubah berusaha memanjatnya, tapi hasilnya sia-sia, karena tembok ini terlalu tinggi.

Lalu si Rubah berjalan mengelilingi tembok itu, sehingga pada salah satu bagian pagar ia menemukan sebuah lubang. "Nah, inilah jalan masuknya," pikir si Rubah. Ia mencoba masuk melalui lubang itu, tetapi ia tidak langsung dapat masuk, karena badannya terlalu gemuk.

Kamis, 20 Januari 2011

Petunjuk dari Kairo

Alkisah, ada seorang petani miskin tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota. Dia tinggal di sebuah gubuk reyot di belakang masjid. Setiap hari ia bekerja banting tulang demi memenuhi nafkah hidupnya. Pada suatu malam ia bermimpi, bahwa ia akan kaya bila pergi ke Kairo, Mesir. Di sana ia akan mendapatkan harta karun yang banyak sehingga menjadi kaya raya. Saat terbangun di paginya, ia terus berfikir akan kebenaran mimpinya. Ia mempertimbangkan dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota Kairo.

Keesokan harinya, ia melakukan perjalanan menuju Kairo. Berhari-hari ia harus berjalan kaki, bahkan sekali-kali ia meminta tumpangan pada bus-bus yang lewat. Sampai ke pelabuhan, ia menumpangi sebuah kapal yang hendak berlayar ke Kairo. Tak jarang ia bertanya kepada orang-orang yang dijumpainya, dimana kota Kairo yang ada di mimpinya itu.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di kota tujuannya. Karena sudah malam, laki-laki ini sempat linglung, tidak tahu hendak pergi kemana. Akhirnya ia pergi ke sebuah masjid, dia shalat dua rakaat dan beristirahat di dalamnya.