Tampilkan postingan dengan label Kisah Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

Petani dan Kerbau

[caption id="attachment_250" align="alignleft" width="200" caption="sumber Google"][/caption]

Setiap subuh hari,  seorang petani membawa seekor kerbaunya pergi ke ladang untuk membajak ladangnya. Ia mulai bekerja dari pagi hingga matahari terbenam di ufuk barat. Pada suatu sore, pak tani sedikit telat berhenti dari pekerjaannya. Karena lelah, ia pun rehat sejenak di bawah sebatang pohon besar.

Waktu magrib pun tiba, kumandang azan terdengar dari sebuah masjid yang dekat dengan ladang pak tani. Tentunya sang kerbau bingung mengenai suara itu. Ia pun  bertanya kepada pak tani, “Suara apa itu Tuan?”

“Itu suara azan,” jawab petani.

Karena masih bingung, kerbau kembali bertanya, “Azan itu apa tuan?”

Kamis, 05 Mei 2011

Penggembala

Foto Google


Di sebuah pos jaga, Nurdin dan Bang Basyah duduk bersama sambil memperhatikan orang-orang yang lewat di jalan raya. Mereka menceritakan keadaan-keadaan baru yang terjadi sekarang ini. Di sela-sela pembicaraan, Nurdin bertanya kepada bang Basyah tentang orang yang tidak jujur. Sambil menikmati secangkir kopi, bang Basyah menjawab pertanyaan Nurdin. “Begini Din, ini ada sebuah kisah tentang orang yang tidak jujur dan asyik mempemainkan orang.” “Begini ceritanya,” bang Basyah mulai bercerita.

Di padang rumput yang luas, seorang anak penggembala asyik bermain-main dengan domba yang  sedang merumput. Setiap hari ia pergi ke tempat ini untuk menggembalakan sekawan dombanya. Suatu hari, anak penggembala itu merasa bosan, sehingga ia memutuskan untuk mempermainkan penduduk kampung. Kemudian ia berteriak, "Tolong, ada serigala!"

Penduduk kampung mendengar teriakan itu. Mereka bergegas keluar untuk menolong anak penggembala itu. Ketika mereka sampai di sana, mereka bertanya, "Mana serigalanya?"

Senin, 25 April 2011

Basyah dan Pohon Apel


Foto Google

Pada zaman dahulu ada sebatang pohon apel yang sangat besar. Seorang anak laki-laki bernama Basyah sangat senang bermain dengannya. Tiap hari Basyah datang ke pohon tersebut. Ia makan buah apel, naik ke atas pohon dan bahkan ia tertidur dalam keteduhannya. Basyah sangat mencintai pohon apel dan begitu juga sebaliknya, pohon itu sangat senang bermain dengannya. Hari terus berlalu, anak laki-laki itu telah menjadi besar. Ia telah jarang bermain dengan pohon apel itu.

Suatu hari, Basyah datang menemui pohon itu dengan wajah yang sedih. "Kemarilah, ayo bermain denganku," kata pohon apel kepadanya. "Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak mau lagi bermain dengan pohon," jawab Basyah.
"Aku menginginkan mainan, dan aku perlu uang untuk membelinya," tambahnya.

"Tapi aku tak punya uang, kamu dapat memetik semua apel yang ada padaku dan menjual semuanya. Maka kamu akan mendapatkan uang." Kata pohon apel.

Dua Pesan Ayah


Di sebuah desa, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Mereka tinggal berempat, yaitu: ayah, ibu, dan dua orang anak laki-laki. Anak yang sulung bernama Nurdin Sedangkan si bungsu bernama Ismail. Mereka selalu menerima apa adanya dan selalu rukun dalam kehidupan dengan tetangganya.

Suatu hari, ayahnya sakit parah. Menjelang ajalnya, beliau berpesan dua hal kepada Nurdin dan Ismail. Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu. Kedua : Jika pergi ke kedai untuk berniaga, janganlah sampai mukamu terkena sinar matahari. Dan ia pun memberi sedikit bekal sebagai modal usaha mereka nantinya.

Hari semakin berlalu, kedua anak laki-laki itu terus menjalankan profesinya sebagai pedagang. Tapi nasip mereka sangat jauh berbeda. Nurdin bertambah kaya. Sedangkan Ismail, ia bertambah miskin. Hartanya lama kelamaan semakin berkurang dan akhirnya ia bangkrut.

Minggu, 17 April 2011

Kutil (Kurang Teliti)

[caption id="attachment_101" align="alignleft" width="300" caption="google"]google[/caption]

Suatu hari, sebuah kejadian laka lantas terjadi di tikungan jalan pengunungan Geulanteu.  Sebuah minibus L300 yang berlaju kencang menabrak seorang anak yang sedang bermain di pinggiran jalan tersebut hingga tewas ditempat.

Kejadian ini sempat menghebohkan warga sekitar yang menyaksikan langsung kejadian ini. Orang-orang berkerumunan di tempat kejadian. Seorang wartawan yang kebutulan lewat di daerah itu berniat meliput kejadian yang luar biasa ini. Tapi ia susah menembus kerumunan warga. Ia mencari cara supaya dapat melihat langsung dan mengambil gambar anak yang tertabrak tersebut. Tanpa banyak bertanya ia langsung mengaku bahwa ia ayahnya korban.

Mendengar  hal tersebut, warga langsung memberi jalan untuknya. Tapi alangkah terkejut saat ia melihat bahwa korban hanya seekor anak monyet. Semua warga yang hadir menertawakan sang wartawan tersebut. “Rupanya ayah korban sudah datang ya..??!!”

Sang wartawan terdiam malu, karena ketidak telitiannya dalam menerima informasi, akhirnya jadi ayah monyet deh......

Kamis, 17 Maret 2011

Korek Api

Fotobucket.com
Pagi Minggu, Apa Banta disuruh ibunya pergi ke sawah. Ia ditugaskan untuk melihat burung-burung agar tidak mendarat dan makan padinya. Apa Banta menuruti perintah ibunya, ia pergi ke rangkangnya dengan membawa seplastik pisang goreng. Sambil menjaga padi ia menikmati pisang gorengnya.

Dari jauh dilihatnya sosok seseorang yang datang ke rangkangnya. Ia tidak lain adalah kakeknya yang akan menemani Apa Banta di sawah. Ia terus mendekat dan kemudian singgah di rangkangnya. Apa Banta memberi pisang goreng untuk kakeknya. “Sambil paroh tulo, kakek akan menceritakan kepadamu tentang seorang pemimpin yang adil dalam mempergunakan harta rakyatnya. Apakah engkau akan mendengarnya?” Tanya kakek kepada Apa Banta.

“O… boleh, boleh, boleh. Saya sangat senang mendengarnya Kek,” jawab Banta,  cucunya. Kakek pun mulai bercerita dan Apa Banta menyimak dengan baik cerita kakeknya.