Aroma gurih masakan lokan khas Aceh masih lekat tertinggal di lidah, meninggalkan jejak kuliner yang memanjakan selera. Namun, bagi kami, petualangan rasa hari itu belum benar-benar usai. Langkah kaki justru membawa kami kembali mendekat ke arah gemuruh ombak, menuju bibir Pantai Panga yang membentang luas.
Matahari perlahan bergeser, membiarkan angin laut menyapu wajah dengan bebas. Di sinilah keseruan babak kedua dimulai: mencari remis.
Di sudut lain pantai, tampak Bang Mawardi dan Bang Jal. Keduanya tak mau kalah berburu dengan alam. Dengan gerakan yang ritmis dan lihai, mereka sibuk melempar dan menarik jala, mengincar ikan-ikan pinggiran laut yang sesekali berkilau diterpa cahaya. Pesisir siang itu benar-benar menjadi panggung bagi kami untuk menjemput rezeki dari alam.






