Laksamana Malahayati, namanya sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat Aceh, bahkan Indonesia. Selain dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2017 lalu, namanya juga diabadikan sebagai nama Jalan, Pelabuhan, bahkan nama kampus yang bergengsi di Aceh.
Sabtu siang (10/11/2018) bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya bersama istri berniat berziarah ke makam Laksamana Mahahayati (Keumala Hayati) di perbukitan Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Setelah menempuh jarak 32 Km dari Banda Aceh, kami tiba di Krueng Raya.
Setelah rehat sejenak di Masjid Miftahul Jannah, kami melanjutkan perjalanan ke makam. Melalui lorong kecil depan pelabuhan, kami masuk mengendarai sepeda motor. Ada palang penunjuk arah disana. Berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya.
Tampilkan postingan dengan label makam sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makam sejarah. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Desember 2018
Sabtu, 10 Februari 2018
Teungku Dicantek, Sang Ulama Aceh Besar, Makamnya Kurang Perawatan
Teungku Dicantek Baet, namanya tentu tak familiar seperti ulama lainnya di Nanggroe Aceh.
Namanya hanya dikenal dari sebuah plang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Besar yang terpampang di pinggir jalan Laksamana Malahayati, Baet, Aceh Besar.
Di sanalah letak makam beliau. Tak banyak tulisan sejarah yang mencatat tentang kiprah sang teungku semasa hidupnya. Warga setempat pun jarang yang mengetahui secara detail jejak perjuangan beliau.
Sekilas, menurut warga setempat beliau adalah seorang ulama yang pernah tinggal di Desa Baet, Kecamatan Baitusalam, Aceh Besar. Kiprah beliau begitu besar dalam penyebaran islam di kawasan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)

