Lima ayat dari Al-Quran tertulis indah dengan cat kuning keemasan pada dinding sebelah timur bangunan. Keramik hitam menjadi latar yang terpasang rapi di tembok cekung setinggi 4 meter. Replika bola dunia berwarna kuning keemasan juga tertata rapi dihadapan tembok tersebut.
Ayat 97-98 dari QS. Al-A’raaf itu menceritakan tentang azab yang datang menimpa penduduk bumi. Sementara QS. Al-Baqarah ayat 155-157 memberi kabar tentang ujian yang diberi Allah pada penduduk bumi. Bila mereka berkata “Innalillahi wainna Ilaihi rajiun,” itulah mereka orang yang mendapat petunjuk.
Setidaknya itulah pesan yang luar biasa saat saya pertama kali menginjakkan kaki di museum tsunami Kota Sigli, Kabupaten Pidie pada awal bulan lalu. Museum unik berwarna krem ini berdiri di sebidang tanah segitiga dekat gerbang masuk Pantai Pelangi setelah melewati alun-alun kota. Saya tidak tahu persis bentuk apa desain museum ini, yang pastinya juga menarik layaknya museum tsunami yang ada di Banda Aceh.
Selasa, 25 Desember 2018
Senin, 17 Desember 2018
106 Tangga Menuju Makam Malahayati
Laksamana Malahayati, namanya sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat Aceh, bahkan Indonesia. Selain dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2017 lalu, namanya juga diabadikan sebagai nama Jalan, Pelabuhan, bahkan nama kampus yang bergengsi di Aceh.
Sabtu siang (10/11/2018) bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya bersama istri berniat berziarah ke makam Laksamana Mahahayati (Keumala Hayati) di perbukitan Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Setelah menempuh jarak 32 Km dari Banda Aceh, kami tiba di Krueng Raya.
Setelah rehat sejenak di Masjid Miftahul Jannah, kami melanjutkan perjalanan ke makam. Melalui lorong kecil depan pelabuhan, kami masuk mengendarai sepeda motor. Ada palang penunjuk arah disana. Berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya.
Sabtu siang (10/11/2018) bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya bersama istri berniat berziarah ke makam Laksamana Mahahayati (Keumala Hayati) di perbukitan Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Setelah menempuh jarak 32 Km dari Banda Aceh, kami tiba di Krueng Raya.
Setelah rehat sejenak di Masjid Miftahul Jannah, kami melanjutkan perjalanan ke makam. Melalui lorong kecil depan pelabuhan, kami masuk mengendarai sepeda motor. Ada palang penunjuk arah disana. Berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya.
Jumat, 14 Desember 2018
Miftahul Jannah, Masjid Luas Dengan Satu Tiang Penyangga di Krueng Raya Aceh Besar
Krueng Raya tak hanya terkenal dengan panorama alamnya yang indah, masjid juga menjadi salah satu destinasi yang menarik.
Masjid Miftahul Jannah namanya. Berdiri megah dekat sungai di pusat Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Letaknya pun berseberangan dengan situs sejarah Benteng Iskandar Muda. Hanya dipisah oleh sungai Krueng Raya.
Sabtu (10/11/2018) sekitar pukul 10.30 WIB, cuaca begitu cerah. Terik mentari menyengat kulit. Lalu lalang boat nelayan pulang melaut memecah keheningan. Begitu juga para mugee ikan beramai-ramai mendekati Pusat Pendaratan Ikan (PPI) setempat untuk mendapat ikan segar dan dipasarkan ke seluruh pemukiman warga.
Saya bersama istri yang berangkat dari Banda Aceh, beristirahat sejenak di masjid kubah putih ini. Tujuan utama kami mengunjungi Makam Pahlawan Laksamana Malahayati, yang terletak di bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Kurang lebih 1 km lagi dari rumah mulia ini.
Masjid Miftahul Jannah namanya. Berdiri megah dekat sungai di pusat Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Letaknya pun berseberangan dengan situs sejarah Benteng Iskandar Muda. Hanya dipisah oleh sungai Krueng Raya.
Sabtu (10/11/2018) sekitar pukul 10.30 WIB, cuaca begitu cerah. Terik mentari menyengat kulit. Lalu lalang boat nelayan pulang melaut memecah keheningan. Begitu juga para mugee ikan beramai-ramai mendekati Pusat Pendaratan Ikan (PPI) setempat untuk mendapat ikan segar dan dipasarkan ke seluruh pemukiman warga.
Saya bersama istri yang berangkat dari Banda Aceh, beristirahat sejenak di masjid kubah putih ini. Tujuan utama kami mengunjungi Makam Pahlawan Laksamana Malahayati, yang terletak di bukit Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Kurang lebih 1 km lagi dari rumah mulia ini.
Rabu, 10 Oktober 2018
Baiturrahim, Masjid Sultan Hassanal Bolkiah di Aceh Jaya
Menatap Masjid Besar Baiturrahim Panga terasa kita sedang berada di Brunei Darussalam. Corak kemegahan melayu begitu kental di bangunan mulia ini.
Berada di lintasan Meulaboh-Banda Aceh, tepatnya di Keude Panga, Aceh Jaya, menjadikan masjid berwarna putih keemasan ini sering disinggahi pengendara. Selain sebagai sarana ibadah, mesjid tiga kubah ini juga menjadi tempat istirahat ketika lelah berkendara.
Namanya Masjid Besar Baiturrahim. Dibangun pascatsunami menerjang Aceh 2004 dari dana hibah masyarakat Brunei Darussalam. Karena itu juga, masjid satu menara ini dikenal dengan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.
Berada di lintasan Meulaboh-Banda Aceh, tepatnya di Keude Panga, Aceh Jaya, menjadikan masjid berwarna putih keemasan ini sering disinggahi pengendara. Selain sebagai sarana ibadah, mesjid tiga kubah ini juga menjadi tempat istirahat ketika lelah berkendara.
Namanya Masjid Besar Baiturrahim. Dibangun pascatsunami menerjang Aceh 2004 dari dana hibah masyarakat Brunei Darussalam. Karena itu juga, masjid satu menara ini dikenal dengan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.
Minggu, 16 September 2018
Dahsyat, Tsunami Hempas Kapal 2600 Ton ke Permukiman Banda Aceh
Melihat sebuah kapal besar berada ditengah pemukiman padat penduduk tentu membuat kita tercengang. Disamping itu kita pasti bertanya-tanya, kok bisa?
Tentu bisa! Tidak ada yang mustahil jika Sang Pencipta berkehendak. Dalam sekejap sebuah daerah berubah total . Ya seperti di Kota Banda Aceh ini, sebuah kapal besar milik PLTD Apung mendarat di permukiman warga sejak 2004 silam.
Ingatkah kita peristiwa apa yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu? Tentu! Gelombang dahsyat menerjang bumi Serambi Mekah ini. Meluluhlantakkan seluruh isi kota para raja. Menjemput ribuan para syuhada menghadap Sang Pencipta. Orang Aceh mengenalnya Ie Beuna, orang Sinabang menyebutnya Smoong, sementara orang Jepang menamainya tsunami.
Tentu bisa! Tidak ada yang mustahil jika Sang Pencipta berkehendak. Dalam sekejap sebuah daerah berubah total . Ya seperti di Kota Banda Aceh ini, sebuah kapal besar milik PLTD Apung mendarat di permukiman warga sejak 2004 silam.
Ingatkah kita peristiwa apa yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu? Tentu! Gelombang dahsyat menerjang bumi Serambi Mekah ini. Meluluhlantakkan seluruh isi kota para raja. Menjemput ribuan para syuhada menghadap Sang Pencipta. Orang Aceh mengenalnya Ie Beuna, orang Sinabang menyebutnya Smoong, sementara orang Jepang menamainya tsunami.
Sabtu, 15 September 2018
Pantai Kerikil Darussalam, Pantai Unik di Aceh Selatan
Berkunjung ke Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan, terasa belum lengkap jika belum sampai ke pantainya. Selain tempat wisata religius Dayah/Pesantren Syaikh Muhammad Waly Al-Khalidi, di kawasan Darussalam juga memiliki pantai unik. Jika pantai pada umumnya bermaterial pasir, seperti pasir putih, pasir hitam, pink, dan lain sebagainya, namun pantai Darussalam ini beralaskan batu kerikir yang menakjubkan.
Batu kerikil yang tedapat di pantai ini bermacam ukuran. Mulai seukuran jari sampai berukuran genggam orang dewasa. Variasi warna pun beragam, ada yang warna gelap, krem, abu-abu, merah hati, putih, dan sebagainya. Pesona hamparan kerikil di pantai ini tak jauh berbeda dengan pantai Kolbano, Kupang, NTT.
Batu kerikil yang tedapat di pantai ini bermacam ukuran. Mulai seukuran jari sampai berukuran genggam orang dewasa. Variasi warna pun beragam, ada yang warna gelap, krem, abu-abu, merah hati, putih, dan sebagainya. Pesona hamparan kerikil di pantai ini tak jauh berbeda dengan pantai Kolbano, Kupang, NTT.
Senin, 16 Juli 2018
Indahnya, Seharian di Pasir Putih Terasa Tidak Cukup
Jalan-jalan ke Banda Aceh, rasanya belum lengkap jika tidak menyempatkan diri ke Pasir Putih, Lhok
Mee, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Pantai indah ini berada sekitar 36 Km
dari pusat kota Banda Aceh.
Objek wisata ini terbilang unik,
pohon-pohon berbagai ukuran tumbuh berjejer di sepanjang pantainya. Akar-akar pohon menjulang
bagaikan tombak terpacak di pasir. Rindang
saat dipandang. Hempasan ombak seirama membawa
ketenangan sembari menikmati
secangkir kelapa muda.
Tak jauh dari bibir
pantai, disusun batu alam untuk membendung ombak. Tentunya dengan tujuan untuk
mencegah abrasi. Selain itu, susunan batu juga menjadi pengaman bagi para
pengunjung yang hobi berenang di pantai ini.
Disebut pasir putih ternyata pasirnya
memang berwarna putih. Bongkahan karang kecil bertaburan di bibir pantai. Aneka
cangkang biota laut pun turut menghiasinya. Nah, permandangan menarik ini jarang ditemukan di pantai-pantai dengan
struktur pasir biasa.
Menghabiskan waktu
seharian di pantai ini terasa begitu singkat. Memancing bebas menjadi pilihan
para pengunjung ketika berada dipantai utara Aceh Besar ini. Ikan yang
diperoleh pun beragam jenis dan ukuran, ya tergantung rezeki lah. Emmm,
pengunjung juga bisa membakar hasil pancingannya di pantai ini. Jika tidak
sempat sendiri, pengunjung bisa meminta bantuan pada para pedagang di sepanjang
pantai ini, dengan hanya membayar jasa sekedarnya.
Pantai ini berada sekitar
3 km dari pasar Krueng Raya, Aceh Besar. Dari pelabuhan Malahayati, pengunjung
bisa mengikuti jalan besar arah ke Laweung, dengan mendaki beberapa tanjakan
bukit Lamreh. Setelah berkendara sekitar 10 menit, pengunjung bisa menjumpai
plang selamat datang ke objek wisata Pasir Putih di sisi kiri jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)








