Minggu pagi yang cerah, jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika deru mesin Isuzu Panther pick-up warna hitam milik Bang Mawardi mulai membelah jalanan Suak Nie, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Di atas bak terbuka dan kabin mobil, tawa dan obrolan hangat satu rombongan kami membumbung tinggi. Tujuan kami hari itu jelas: berpetualang mencari lokan (kerang rawa) ke Panga, sebuah kawasan pesisir yang eksotis di Kabupaten Aceh Jaya.
Perjalanan melintasi aspal mulus lintas barat Sumatra terasa begitu menyenangkan. Hampir dua jam berlalu tanpa terasa, hingga rimbunnya vegetasi pesisir menyambut kami saat tiba di kawasan Pantai Konservasi Penyu, Aceh Jaya. Namun, petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai dari titik ini.
Sensasi Jalur Ekstrem dan Solidaritas di Pasir Kering
Untuk mencapai muara Krueng Panga, kami harus berkendara sekitar 20 menit lagi. Jalur yang kami lewati bukan lagi aspal, melainkan trek berpasir kering yang membelah barisan pohon-pohon cemara besar yang menjulang tinggi.
Suasana di dalam dan di atas bak pick-up mendadak riuh. Jantung rasanya berdegup kencang setiap kali ban mobil mulai kehilangan traksi dan selip di atas pasir putih yang gembur. Jalur ini benar-benar ekstrem! Tidak jarang, raungan mesin Panther hitam Bang Mawardi harus menyerah pada keadaan.
"Satu... dua... tiga, dorong!"
Terdengar komando riuh saat kami harus turun beramai-ramai, memberikan dorongan ekstra pada mobil yang tak sanggup menarik di atas pasir kering. Alih-alih kesal, momen mandi keringat di bawah terik matahari ini justru menjadi bumbu keseruan yang membuat kebersamaan kami kian erat.
Hangatnya Sambutan dan Secangkir Kopi
Rasa lelah dan tegang seketika sirna begitu roda mobil menyentuh area muara. Di sana, kami disambut dengan senyum hangat oleh keluarga dari Panga, Jalinur, atau yang akrab kami sapa Bang Jal.
Sebelum "bertempur" menerjang rawa demi berburu lokan, kami memilih untuk mendinginkan kepala sejenak. Di bawah rimbunnya pohon cemara yang berayun ditiup angin laut, kami duduk bersila di atas sebilah papan kayu besar yang estetik. Suasana santai itu kian sempurna berkat Bang Mulyadi yang dengan sigap mengeluarkan bungkusan kopi khas yang sengaja dibelinya dari warung kopi (warkop) Teunom saat perjalanan tadi. Meneguk kopi hangat di tepi pantai memberikan ketenangan tersendiri.
Sembari para pria menikmati kopi, kaum ibu mulai sibuk menyalakan kayu bakar di antara batang pohon tumbang. Mereka memasak mi instan dalam wajan besar untuk menu makan siang bersama. Aroma bumbu mi yang menyeruak berpadu dengan gurihnya angin laut benar-benar membangkitkan selera.
Sementara itu, keceriaan juga milik anak-anak. Di atas hamparan pasir, mereka sibuk berkreasi. Ada yang mengumpulkan botol-botol plastik bekas yang terdampar di bibir pantai sebagai aksi bersih-bersih spontan, dan ada pula yang asyik bermain masak-masakan dengan pasir putih. Pantai hari itu benar-benar menjadi ruang bermain yang sempurna bagi mereka.
Menjelajah Rawa Nipah Demi Buruan Berharga
Selesai mengisi energi dengan mi instan hangat dan menunaikan ibadah shalat zuhur di alam terbuka, misi utama pun dimulai. Dipandu oleh Bang Jal, kami mulai berjalan kaki menelusuri perkebunan kelapa sawit miliknya.
Tujuan akhir kami adalah rawa-rawa nipah yang berlumpur. Di sanalah, di sela-sela akar pohon nipah yang rapat, lokan-lokan segar bersembunyi. Dengan kejelian mata dan ketelatenan tangan, satu per satu kerang berhasil kami kumpulkan. Sementara kami asyik berburu lokan yang akan dibawa pulang sebagai buah tangan ke Meulaboh, Bang Jal rupanya punya agenda lain. Beliau terlihat membawa sekarung beras untuk ditanak sore itu, mempersiapkan hidangan penutup petualangan kami.
Manisnya Penutup Hari: Gulai Lokan Khas Aceh
Waktu berputar begitu cepat di dalam rawa. Tak terasa, posisi matahari sudah condong ke barat, menandakan waktu ashar hampir tiba. Dengan tubuh yang mulai lelah namun puas, kami kembali ke titik kumpul di bawah pohon cemara.
Kejutan luar biasa telah menanti kami. Di atas tikar yang digelar, sebuah wajan besar berisi Gulai Lokan khas Aceh yang dimasak dengan bumbu rempah tradisional sudah siap tersaji secara estetis. Aroma kuah santan yang kental dan bumbu yang meresap langsung menggoda iman.
Kami pun duduk melingkar, menyantap gulai lokan tersebut beramai-ramai secara komunal. Rasa lelah setelah mendorong mobil di pasir kering dan menerobos rawa nipah langsung terbayar lunas pada suapan pertama. Emm, sedap dan segar sekali! Manisnya daging lokan yang baru dipanen langsung dari alam berpadu sempurna dengan gurih pedasnya kuah gulai.
Hari mulai beranjak sore saat kami bersiap kembali naik ke atas Panther hitam Bang Mawardi. Perjalanan ke Panga kali ini bukan sekadar tentang membawa pulang sekarung lokan ke Meulaboh, melainkan tentang membawa pulang memori indah tentang jalur ekstrem, tawa di bawah cemara, dan hangatnya kuah gulai kebersamaan.[]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar