Aroma gurih masakan lokan khas Aceh masih lekat tertinggal di lidah, meninggalkan jejak kuliner yang memanjakan selera. Namun, bagi kami, petualangan rasa hari itu belum benar-benar usai. Langkah kaki justru membawa kami kembali mendekat ke arah gemuruh ombak, menuju bibir Pantai Panga yang membentang luas.
Matahari perlahan bergeser, membiarkan angin laut menyapu wajah dengan bebas. Di sinilah keseruan babak kedua dimulai: mencari remis.
Di sudut lain pantai, tampak Bang Mawardi dan Bang Jal. Keduanya tak mau kalah berburu dengan alam. Dengan gerakan yang ritmis dan lihai, mereka sibuk melempar dan menarik jala, mengincar ikan-ikan pinggiran laut yang sesekali berkilau diterpa cahaya. Pesisir siang itu benar-benar menjadi panggung bagi kami untuk menjemput rezeki dari alam.
Berburu di Balik Pasir Pantai
Mencari remis seolah memanggil kembali memori masa kecil. Jari-jemari harus jeli meraba di antara pasir basah yang tersapu buih ombak. Setiap kali jemari menyentuh cangkang keras yang bersembunyi di balik butiran pasir, ada letupan kegembiraan tersendiri.
"Secara rasa, remis di Panga ini sebenarnya sama saja dengan remis yang biasa saya nikmati di Meulaboh. Namun, yang mahal di sini adalah keseruannya."
Sensasi berkejaran dengan ombak, tawa yang pecah saat remis terlepas, dan kebersamaan di sepanjang garis pantai melahirkan atmosfer yang tak akan bisa tergantikan oleh semangkuk remis yang dibeli instan di pasar.
Sore melarut, dan wadah kami sudah cukup terisi. Petualangan di pesisir Panga kami akhiri untuk bergeser ke rumah Bang Jal. Disana kami disuguhkan kopi panas sembari pulihkan tenaga yang terkuras saat kejar-kejaran dengan ombak.
Hari itu di Panga, kami tidak hanya pulang membawa perut yang kenyang, tapi juga sebuah kisah tentang bagaimana alam, kebersamaan, dan kesederhanaan bisa menjelma menjadi kebahagiaan yang utuh.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar