Masjid ini banyak digunakan para pengguna jalan sebagai tempat istirahat ketika sampai waktu salat dan saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis di pinggir jalan raya, masjid ini juga memiliki halaman yang luas untuk tempat parkir kendaraan.
Selasa, 26 Agustus 2014
Masjid Raudhaturrahman Padang Tiji
Masjid ini banyak digunakan para pengguna jalan sebagai tempat istirahat ketika sampai waktu salat dan saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis di pinggir jalan raya, masjid ini juga memiliki halaman yang luas untuk tempat parkir kendaraan.
Masjid Baitul Makmur Krueng Sabee
Masjid Baitul Makmur terletak di lintasan Meulaboh Banda Aceh, tepatnya di Keude Krueng Sabee, Aceh Jaya, kurang lebih 12 Km dari kota Calang.
Masjid yang bergaya arsitektur melayu ini dibangun pascatsunami melanda Aceh pada 2004 silam. Bangunan masjid memiliki delapan kubah, masing-masing satu kubah utama, tiga kubah di pintu masuk, dan empat kubah di sudut masjid.
Selain untuk tempat ibadah, Masjid Baitul Makmur ini sering digunakan pengguna jalan sebagai tempat istirahat saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis, pengungjung juga bisa menggunakan fasilitas masjid untuk kebutuhannya, seperti kamar mandi da WC umum. Bagi pengendara mobil pun tidak khawatir untuk memarkirkan kendaraannya, karena di area masjid tersedia lahan parkir yang luas dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Masjid yang bergaya arsitektur melayu ini dibangun pascatsunami melanda Aceh pada 2004 silam. Bangunan masjid memiliki delapan kubah, masing-masing satu kubah utama, tiga kubah di pintu masuk, dan empat kubah di sudut masjid.
Selain untuk tempat ibadah, Masjid Baitul Makmur ini sering digunakan pengguna jalan sebagai tempat istirahat saat lelah berkendara. Selain tempatnya yang strategis, pengungjung juga bisa menggunakan fasilitas masjid untuk kebutuhannya, seperti kamar mandi da WC umum. Bagi pengendara mobil pun tidak khawatir untuk memarkirkan kendaraannya, karena di area masjid tersedia lahan parkir yang luas dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Minggu, 10 Agustus 2014
Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan
Mendengar kemegahan dan keindahan Masjid Istiqamah Tapaktuan dari kawan-kawan, saya berhajat ingin shalat di sana. Lebih-lebih ketika melihat foto-foto karya Ikbal Fanika, yang di posting di blognya, membuat keinginan saya semakin menggebu-gebu, seakan tidak bisa menunggu keesokan hari.
Namun, keinginan tersebut baru tercapai ketika mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Kabupaten Abdya. Di sela-sela kegiatan, saya dan Arif, Apoel, dan Akhie sepakat mengujungi kota naga, Aceh Selatan. Setelah mengunjungi patung naga dan jejak tapak Tuan Tapa, kami salat zuhur di Masjid Istiqamah, Masjid Agung di kota Tapaktuan.
Namun, keinginan tersebut baru tercapai ketika mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Kabupaten Abdya. Di sela-sela kegiatan, saya dan Arif, Apoel, dan Akhie sepakat mengujungi kota naga, Aceh Selatan. Setelah mengunjungi patung naga dan jejak tapak Tuan Tapa, kami salat zuhur di Masjid Istiqamah, Masjid Agung di kota Tapaktuan.
Selasa, 29 Juli 2014
Masjid Nurul Huda, Saksi Sejarah Aceh Barat
Masjid bersejarah ini memiliki dua kubah utama yang letak berderetan, dan dua kubah kecil di sisi kiri dan kanan kubah utama. Selain itu, masjid dengan atap merah kecoklatan ini memiliki menara yang terletak di sebelah kiblat masjid.
Sabtu, 19 Juli 2014
Sayang, Makam Tgk Di Cantek Tak Terurus
Seakan tak ada kepedulian dari pemerintah. Itulah hal yang terkesan saat melihat keadaan makam Tgk Di Cantek, yang terletak di pinggir jalan Malahayati, tepatnya di Desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Hanya ada pagar sederhana yang memugar makam bersejarah ini.
Di sisi kiri makam terdapat dua plang yang bertuliskan situs cagar budaya. Rumput setinggi lutut menghiasi makam dan sekelilingnya. Pondasi batu-bata seukuran 1x2 meter yang telah patah menjadi tanda area makam tersebut. Hanya dari tulisan di plang tersebut, masyarakat mengetahui bahwa ada makam bersejarah di daerah ini.
Di sisi kiri makam terdapat dua plang yang bertuliskan situs cagar budaya. Rumput setinggi lutut menghiasi makam dan sekelilingnya. Pondasi batu-bata seukuran 1x2 meter yang telah patah menjadi tanda area makam tersebut. Hanya dari tulisan di plang tersebut, masyarakat mengetahui bahwa ada makam bersejarah di daerah ini.
Kue Khas Aceh di Hari Lebaran
Menjelang Idul Fitri, hampir semua masyarakat disibukkan dengan berbagai kegiatan dan kebiasaan untuk memeriahkannya. Mulai dari membeli pakaian baru, perabot baru, kenderaan baru, alat elektronik baru sampai menyiapkan berbagai makanan dan aneka kue yang jarang kita temukan di bulan-bulan lain. Tradisi membuat kue ketika menyambut lebaran, masih mendarah daging dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Hampir setiap rumah, kita dapat mencicipi beraneka macam kue khas Aceh yang terus dilestarikan sampai sekarang.
Sabtu, 14 Juni 2014
Makam Raja Sipacak
![]() |
| Makam Raja Sipacak dilihat dari jalan |
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)




