Selasa, 30 Juni 2026

Istana Pasir di Lhok Bubon: Hadiah Ulang Tahun Sederhana untuk Aisyah dan Fatih

SUAK NIE – Deru ombak dari kejauhan selalu punya cara tersendiri untuk memanggil jiwa yang penat. Bagi saya, yang hari-harinya dihabiskan dengan memeras keringat di sawah milik ayah di kawasan Suak Nie, Kecamatan Johan Pahlawan, suara alam itu adalah sebuah kemewahan. Namun, Kamis siang itu, 18 Juni 2026, deru ombak terasa berbeda. Ia tidak hanya datang sebagai penghibur lelah, melainkan sebagai lagu ucapan selamat ulang tahun yang paling jujur bagi kedua buah hati kami. Kamis itu adalah hari yang istimewa. Dua dari tiga anak kami, Aisyah dan Fatih, merayakan milad mereka. Sebuah kebetulan yang indah dari Yang Maha Kuasa, kakak beradik ini lahir di tanggal yang sama. Tahun ini, Aisyah genap menginjak usia 7 tahun, sementara adiknya, Fatih, menginjak usia 6 tahun. Tidak ada pesta meriah dengan balon warna-warni atau kue tart bertingkat di rumah gubuk sederhana kami di Suak Nie. Sebagai gantinya, saya dan istri saya, Nurhasanah, sepakat memberikan sebuah hadiah petualangan kecil yang akan mereka ingat: perjalanan ke Pantai Lhok Bubon, Samatiga. Sekitar pukul dua siang, selepas menunaikan ibadah salat zuhur di rumah, kami mulai bersiap. Kendaraan andalan kami, sebuah sepeda motor matic "ontel" yang setia menemani pasang surut kehidupan, menjadi tumpangan bagi kami berlima. Saya di depan memegang kemudi, Nurhasanah di belakang mendekap si bungsu Bilal yang baru berusia 2,5 tahun, sementara Aisyah dan Fatih terselip di antara kami dengan wajah yang memancarkan binar bahagia. Di bagasi dan gantungan motor, berjejer bekal sederhana yang disiapkan dengan penuh cinta oleh ibunya: mi goreng, nasi dengan lauk ikan lele, es mentimun yang menyegarkan, serta sekeranjang buah rambutan segar yang baru saja saya petik langsung dari pohon di rumah nenek anak-anak di Suak Nie. Perjalanan menuju Samatiga siang itu terasa begitu syahdu. Begitu roda motor kami menyentuh kawasan Pantai Lhok Bubon, angin sepoi-sepoi khas pesisir langsung menyambut, membawa aroma garam yang menenangkan. Suasana pantai hari itu tergolong sepi. Pondok-pondok kayu berdiri berjejer rapi di pinggir pantai, sebagian besar kosong. Hanya ada sedikit pedagang yang berjualan, mungkin karena hari itu adalah hari kerja, bukan akhir pekan yang padat pengunjung. Namun bagi kami, kesunyian ini adalah berkah; Lhok Bubon serasa menjadi halaman bermain pribadi untuk merayakan milad dua pahlawan kecil kami. Begitu kaki mereka menyentuh pasir, kegembiraan langsung pecah. Si kecil Bilal bersama kakaknya langsung asyik bermain di bawah rindangnya pepohonan pantai. Mereka duduk di atas pasir putih, bermain dengan sebuah truk mainan kuning kecil, tawa renyah mereka beradu dengan suara angin. Aisyah, yang hari itu menjadi "ratu sehari", nampak begitu anggun sekaligus lincah. Dalam balutan baju garis-garis dan celana biru, ia berjalan menyisir tepi pantai yang berbatu karang. Langkah kaki kecilnya yang tanpa alas menapak berani di atas pasir basah, sesekali melompat kecil menghindari riak air laut dengan latar belakang langit biru Lhok Bubon yang bersih berawan. Tidak kalah ekspresif, Fatih pun menemukan dunianya sendiri. Di sudut pantai yang lain, dengan setelan baju merahnya, Fatih berjongkok dengan sangat khusyuk di atas pasir. Jemari tangannya dengan tekun menggoreskan pola-pola di atas tanah, membangun sebuah mahakarya imajinatif: sebuah istana pasir impian miliknya. Puas membangun istana pasir, kami berlima menceburkan diri ke dalam pelukan laut Lhok Bubon. Berenang bersama, menggendong Bilal yang ketakutan sekaligus penasaran saat ombak kecil menerpa kakinya, dan menyuapkan nasi lele serta mi goreng di sela-sela lelah bermain menjadi momen yang magis. Kesegaran es mentimun dan manisnya buah rambutan Suak Nie menyempurnakan hari itu. Rasa penat bertani di sawah berhari-hari seketika luruh, digantikan oleh rasa syukur yang membuncah. Waktu berjalan tanpa permisi. Tak terasa matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna keemasan di ufuk langit Samatiga. Tanda bahwa hari sudah hampir senja. Kami pun mulai mengemas barang-barang, membersihkan sisa makanan, dan membilas badan anak-anak yang sudah penuh dengan pasir dan garam. Kami kembali menaiki motor matic tua kami untuk bertolak pulang ke rumah gubuk di Suak Nie. Sepanjang jalan pulang, anak-anak tampak terkantuk-kantuk karena lelah bermain, namun senyum di wajah mereka tidak hilang. Hari itu kami belajar lagi, bahwa kebahagiaan tidak pernah diukur dari seberapa mewah perayaannya, melainkan tentang bersama siapa kita merayakannya. Selamat ulang tahun, Aisyah dan Fatih. Istana pasir di Lhok Bubon mungkin akan tersapu ombak esok hari, tetapi ingatan tentang hari ini akan abadi di hati kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar